Lampung

0

image

Lampung. Sekarang saatnya jalan-jalan ke lampung. Kebetulan ada acara nikahan si taufan dapet orang lampung. Walau sebenernya ekspektasinya ke medan tapi ya gapapa lah. Jalan-jalan ke tempat yg unexpected juga kadang -kadang seru juga. 

Pertama yang terlintas ketika dengar kata lampung adalah keripik pisang, kota yang rasanya budaya aslinya gak terlalu otentik karena dulunya sebagai daerah transmigran maka budayanya pun jadi mix. 

Ketika baru sampai di bandara Raden Inten 2 kayanya masih ingat dulu waktu terakhir kesini bandaranya masih belum jadi. Tapi sekarang sudah lumayan. Sudah berbentuk lah bandaranya. Ketika datang sudah ditunggu sama abang-abang sopir rental. Dengan harga Rp.375.000 (normal sih) sudah bisa jalan-jalan lah naik avanza. Perjalanan pertama menuju ke museum bandar lampung dulu. Tapi waktu datang kesana… eng ing eng.. ada kawinan jadi agak bingung juga waktu mau masuk lewat mana. akhirnya ga jadi. Haha.. bingung mau kemana dan jam menunjukkan sudah jam 10.30 akhirnya diputuskan untuk makan siang dulu. Si supir merekomendasikan makan siang di Summit Bistro. Sebuah bistro yang ada di puncak bukit gitu deh. Kalo jalan mau arah ke pantai sudah keliahatan lah dari jauh. Ngejereng sendiri. 

image

image

image

Oke sekarang kita sedikit bahas Summit Bistro. Tempatnya sih menerut kita salah satu tempat paling ke kinian deh mulai dari bangunan dan makanannya di lampung. Tapi kayanya yang kesini ga terlalu banyak atau mungkin hanya weekend saja ramai soalnya yang dipakai hanya lantai 1 nya saja. Lantai atas dan bawah ditutup bahkan ada semacam wine house yang kayanya ga terlalu laku. Salah satu yang paling. Memanjakan mata disini adalah hiasan akar nya yang sangat wow. . Sangat pantas sekali sebagai penyambut tamu di lobby restaurant. Namun sayang beberapa furniture agak sedikit merusak suasana yang tercipta karena menurut saya kurang pas lah dengan furnitur seperti meja dan kursi yang untuk couple atau single yg pas-pasan jadi kesannya malah kaya warung nasi padang. Kalo makanan sih cukup lah walau ga wow jg. Karena kayanya disini yang dijual adalah view.

image

image

image

image

Selepas isi perut langsung cabut lagi sekarang menuju ke pantai. Pantai yang dituju adalah pantai pulau tangkil. Entah kenapa namanya pulau tangkil. Mungkin disana banyak pohon tangkil kali. Sebelum menyebrang yah seperti biasa nego-nego sama yang punya perahu. Mestinya 1 perahu bisa diisi beberapa orang tapi karena waktu itu sepi jadi akhirnya kita sewa privat. 100ribu bolak-balik. Jaraknya sih dekat ya cuma sekitar 15 menit perjalanan. 

Lalu ada apa di pulau tangkil? Ternyata sebuah atol kecil yang dikelola oleh masyarakat sekitar. Ketika masuk ada biaya registrasi dan disana juga sudah ada wahana permainan water sport. Tapi waktu itu kita cuma jalan-jalan aja. Dipinggir pantai dan duduk-duduk di saung-saung yang ada di pinggir nya dan tentu saja selang beberapa menit ada orang datang kasih tiket buat sewa saung. Haha. Sewa nya 100ribu sepuasnnya. Yaudahlah namanya juga wisata. Namun sayang disini pasirnya kerikil. Jadi kurang enak buat anak-anak main pasir dan masih banyak sampah di sekitar. Harusnya masyarakat disitu lebih concer ke kebersihannya daripada sibuk bikin pondokan. 

Kemudian lanjut beli oleh-oleh. Oleh-oleh yaa apalagi kalo bukan keripik pisang. Entah dimana ini kebon pisang nya tapi oleh-oleh lampung ya pisang itu. Sama si driver ditunjuklah salah satu kios bernama yen-yen. Pas dari luar ini macam kios kecil aja ukuran 5×2,5 meter dengan pajangan oleh-oleh yang sedikit dan agak kusam-kusam gitu lah. Gak menarik buat dibeli. Sama salah satu pelayannya kita diarahkan buat masuk dan ternyata di pojokan ruangan ada pintu yang menembus ke ruangan sebelahnya dan disitu ternyata jualan sebenarnya dipajang dengan suasana ruangan yang lebih modern. Entah apa maksudnya ini tetap mempertahankan denah seperti ini.  Semacam kamuflase gitu lah. Ternyata dua ruko di sebelahnya adalah toko yang sama juga. Haha..

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the XL network.

Advertisements