Mecca

image

‎Sekarang mau ngulas tentang pengalaman spiritual di mekkah. Antara mekkah dan madina ternyata kota pertama lebih meninggalkan kesan yang dalam. Haha.

image

Pertama kali ke mekkah awalnya sebenarnya memang ingin menemukan pengalaman spiritual yang dicari-cari. Ternyata Allah mendengar doa tersebut. Hal pertama yang terbersit ketika sampai di kota jeddah adalah

image

“Waw, gak percaya bisa sampai disini”

Datang sebagai manusia undangan terpilih untuk mengunjungi rumah Allah Swt. Karena sudah langsung berihram ketika di pesawat maka mau tidak mau perkataan dan perbuatan harus sudah mulai dijaga. Yang ada hanyalah pikiran yang terngiang-ngiang di kepala dan hati yang selalu bertasbih. 

image

Umroh ini benar-benar coba dinikmati setiap detik dan jengkal tanahnya. Perasaan deg-degan ketika akan memasuki tanah suci mekah. Tentu ada alasan kenapa tanah ini disebut sebagai tanah suci. Tanah dimana setiap jengkal nya adalah mustajab, dimana setiap jengkalnya akan dilindungi oleh Allah dari kerusakan hingga hari kiamat. Mekkah memiliki pintu masuk yang benar-benar membuat setiap manusia terpesona. Terowongan menembus bukit cadas yang panjang seolah membawa jemaah ke dunia lain diluar imajinasi manusia. Setelah masuk rasanya diri setiap orang terberkahi sebagai undangan Allah Swt. Sang maha pencipta alam semesta. 

image

Kebetulan waktu itu adalah hari jumat, dimana waktu sudah sangat dekat menunjukkan waktu beribadah sholat jumat. Dalam jendela bis menuju hotel, di setiap jarak kota mekkah terdapat orang dengan baju ihram dari berbagai jenis wajah di dunia ini datang dengan satu tujuan yang sama. Pertama kali merasakan sholat berjamaah di kota mekkah benar-benar membuat terharu. Suara azan yang terdengar lantang di setiap sudut jalan, derap antusias manusia memenuhi panggilan azan untuk sholat jumat, dan hati nurani manusia yang bertasbih dan bertalbiah seolah-lah bergema menusuk telinga tanpa perlu mereka bersuara. Suatu budaya yang menyenangkan untuk para muslim tanpa harus menyembunyikan identitas atau sekedar gengsi untuk terlalu taat beragama.‎ 

image

Ingin rasanya jantung ini meledak ketika tidak sabar untuk melihat kabah secara langsung. Ya betul, kabah memang hanya sebuah bangunan kotak persegi dengan ditutupi oleh kain hitam bertuliskan arab. Tapi tentu saja sanubari manusia tidak berbohong kepada Sang Khalik nya. Dentuman jantung yang semakin keras ketika langkah demi langkah menuju Baitullah dan melihatnya untuk pertama kali. Subhanallah..

image

Banyak yang bilang pertama kali melihat kabah pasti akan menangis, hal itu seolah-olah menjadi sebuah mainstream bagi jemaah. Tapi pertama yang terlintas dalam benak ini pertama kali adalah keberuntungan melihat dan mengunjungi kota ini dan menyaksikan saksi sejarah keagungan kabah dari masa ke masa semenjak Nabi Ibrahim dan tertulis dalam kitab suci Alquran. Maha Benar Allah yang menurunkan Alquran yang telah menunjukkan bukti-bukti keberanannya kepada mereka yang percaya.‎ 

image

Hari pertama kedua dan ketiga terlewati dengan sungguh berkesan. Masih teringat bagaimana setiap hari dihabisi dengan sholat berjamaah di masjidil haram. Berbaris dengan berbagai umat Nabi Muhammad dari berbagai belahan dunia dan melakukan gerakan ibadah yang sama satu sama lain. Berbagi sejadah dengan orang-orang rupa rupa fisik dan budaya seolah persaudaraan telah terjalin antara setiap orang disana dan dalam benak masing-masing orang. Semua berbaris, bersujud, dan menangis pada satu titik di masjidil haram tanpa perlu ada yang mengatur dan semua terjadi dengan sendirinya seperti telah terlatih untuk melakukannya. Maha Besar Allah yang telah menanamkan kebenaran pada diri-diri manusia di bumi ini. Kebenaran yang hanya tertutupi oleh ego dan ambisi dan nafsu. 

image

Hari itu kemudian adalah waktu Fajr, pukul 05.38. Mencari barisan sholat untuk kemudian menggelar sejadah dan menanti waktu kumandang azan. Sungguh tidak sulit untuk menemukan orang Indonesia disana. Tapi disini kami masing-masing, tidak lagi dilabeli oleh negara dan simbolisme semata. Kami adalah ummat, ummat yang diucapkan sampai tiga kali dalam doa Nabi Muhammad ketika beliau akan wafat. Nabi yang telah mencintai kami ribuan tahun sebelumnya bahkan sebelum kami lahir dan memohonkan ampun atas dosa kami bahkan sebelum kami melakukannya. Nabi yang penuh kasih sayang dan seketika dapat menjadi seorang yang begitu pemberani diantara yang lainnya. Beliau adalah Raja bagi kami, ayahanda bagi kami, dan pemberi syafaat kami bahkan ketika nanti kami diadili di akhirat. Tiba-tiba kerinduan ini muncul seketika, ingin bertemu langsung dengan beliau dan hidup bersamanya di akhirat sana kelak. Tapi apakah kita seberuntung itu? 

image

Fajar kali ini entah terasa lain dari fajar-fajar sebelumnya. Masjidil haram yang begitu terang benderang, bahkan di kala langit masih gelap gulita. Ya, bahkan guratan-guratan dindingnya di kala itu masih terlihat jelas dalam ingatan. Tiba-tiba suara sang imam pun bergema dan seketika itu juga para jemaah melakukan gerakan sholat dan bertakbir bersama. Tidak tahu kenapa, tapi saat itu bacaan imam terdengar sangat menggetarkan hati dan tanpa sadar meneteslah air mata ini. Mengingat kembali dosa-dosa yang dilakukan dan bagaimana saat itu terpikir betapa beruntungnya jika dapat mati di tempat ini. Ya Allah, sungguh indah bacaan imam ini. Berkahilah dia Ya Allah. Begitulah kira-kira doa yang terlintas dalam benak sambil menikmati bacaan Alquran yang teramat merdu yang pernah di dengar sepanjang hidup ini. Imam tersebut bernama Syekh Bandar Baleela, seorang manusia beruntung yang terpilih menjadi imam di Masjidil Haram. Masjid dengan keutamaan tertinggi dimana sholatnya akan dinilai 100.000 kali lipat daripada tempat lain. Indahnya kontrak imam tersebut sampai ketika mati pun dia akan termasuk orang-orang beruntung yang akan di sholati oleh seluruh penduduk mekkah dan jenazahnya akan di kubur dengan tanah-tanah suci di kota mekkah. Kuburan para imam masjidil haram semenjak zaman ke khalifahan, yaitu kuburan tanpa makam, nisan dan hanya sebuah patok. 

image

image

image

image

Hari-demi hari semakin terasa indah di kota mekkah. Seolah sudah menjadi salah satu warga mekkah. Hal yang mungkin kuinginkan di dunia ini saat itu. Menjadi penduduk kota ini dan di sholati oleh seluruh penduduk mekkah untuk kemudian ditimbun dalam tanah suci kota mekkah. Waktu tiga hari diisi dengan sholat dan umroh berturut-turut. Mengumrohkan diri sendiri untuk kemudian di hari berikutnya mengumrohkan ayahanda tercinta yang bahkan belum sempat menunaikan umroh nya dan waktu terlanjur memanggilnya pulang ke Rahmatullah. Pada hari mengumrohkan ayahanda tercinta, di depan kabah sebagai saksi , hati ini menangis dan air mata berlinang memohon kepada Allah Swt menyampaikan pahala umroh ini untuk ayahanda tercinta di alam sana sebagai bakti anaknya kepada orang tua. Pahala yang ikhlas diberikan untuk sang ayah yang mungkin tidak dapat melakukan umrohnya karena harus berkeringat membiayai anak-anaknya bersekolah. Ya Allah jika memang begitu kenyataannya, jadikanlah setiap tetesan keringat beliau sebagai ibadah dihadapanMu. Dan tak lupa sampaikan pahala ini dan salam hamba kepada beliau karena perpisahan ini hanya sementara sampai kami kembali dikumpulkan lagi di alam barzah kelak. Punggung yang sakit, kaki yang lecet, dan peluh yang terus keluar seolah tidak menghentikan langkah ini untuk terus bertalbiah kepadaNya. Sungguh keikhlasan yang ada ketika memang harus mati meninggalkan jasad ini disana. Dunia ini terkadang sungguh membuat lelah, lelah untuk menahan godaan-godaan kesenangan duniawi yang ternyata hanyalah jebakan nafsu belaka. 

image

Oiya,, apa kalian tahu dimana bagian terbaiknya? Yaitu suatu malam setelah menunaikan umroh dan sholat isya di masjidil haram bersama istri tercinta. Istri tercantik dengan kerudung hitamnya yang anggun. Saling berpegang tangan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Berjalan menyusuri jalanan kota mekkah bersama ribuan orang lain yang berlalu lalang menunaikan ibadah dilatar belakangi masjidil haram dan sinar bulan di kota mekkah. Alhamdulillah. Undang lagi kami kesana…

Advertisements

One thought on “Mecca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s