Sweet Jogja : Musseum Affandi

image

Entah apa yang merasuki jiwa ini -cieeh- tapi dari semua opsi jalan-jalan di jogja maka pilihan jatuh di museum affandi. Sok nyeni banget dah ini. Padahal ngerti lukisan juga engga. Tapi ya itulah, kita gak akan tahu kalo kita ga terlibat langsung kan di dalamnya. 

Setelah makan siang di Raminten,maka acara selanjutnya adalah ke museum affandi yang terletak di jalan raya Solo KM… ?? KM berapa yah. lupa.. yang pasti tempatnya agak nyempil dengan plang yang gak terlalu besar. Pas masuk ke dalam agak bingung juga tempatnya gak kaya museum pada umumnya. Cuma sebuah bangunan ga jelas dengan patung-patung mirip leak plus rumah tingkat dengan fondasi kayu yang lebih mirip rumah pohon di film George of The Jungle. Sesampai disana langsung ditanya sama si security 

“Mau ke cafe mas? ”

“Bukan, ke museum”

Hampir aja nyangka kalo salah alamat, ternyata bener. Hehe. Beli tiket masuk Rp.30.000 plus hak cipta buat foto-foto di dalam Rp.10.000. Entah kalo di share di blog kaya gini kena bayar lagi ga. Waktu itu cuaca udah mendung, bahkan udah gerimis dan coba tebak… saya adalah pengunjung satu-satunya saat itu. mungkin rame nya pas weekend kali. 
Masuk ke gedung setengah lingkaran pertama, langsung disambut sama yg jaga ruangan dan ditanya mau ditemenin buat jelasin atau sendirian aja. serta merta dijawab mau sendirian aja namun beberapa menit kemudian langsung dikoreksi minta ditemenin buat lebih pahamin cerita dibalik lukisan-lukisan affandi yang waktu itu masih saya sangka macam lukisan anak sd. 

image

Untungnya si mbaknya runtut ceritanya sehingga kita bisa paham apa motif dan filosofi dibalik sebuah lukisan. Disini gak akan cerita tentang bagaimana biografi affandi yang bisa dilihat sendiri di google. Disini akan dibahas tentang makna dan motif dan peristiwa yang melatar belakanginya dari sebuah kejadian seseorang. 

image

Ini adalah gambar pertama affandi yang diberi judul self potrait. Ternyata lukisan itu menggambarkan affandi sendiri yang sedang melukis dirinya sendiri di depan cermin. Bahkan garis dari kaca nya juga ikut masuk dalam lukisan. Pada lukisan pertama memang nampaknya masih memiliki gaya yang jelas dan tegas. Masuk ke lukisan-lukisan berikutnya sudah menjadi lukisan yang semakin spontan dan sudah tidak menggunakan kuas lagi melainkan jari-jari tangan. Gedung galeri ini ternyata merupakan representasi dari daun pisang. Kenapa daun pisang? Karena dahulu affandi hidup kecilnya susah dan tidur hanya berselimut daun pisang. Sehingga suatu waktu waktu saat membuat galeri ini dia membentuknya menyerupai daun pisang dan menginginkan bahwa bangunan ini akan melindungi keluarganya. 

image

Lukisan lain yang menarik adalah lukisan dalam rumah gubuk dari kejauhan yang di dalamnya terdapat sebuah keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak. Dan lucunya disebelahnya dengan menggunakan jahitan terdapat lukisan yang menggambarkan versi jarak dekar atau zoom dari ketiga orang tersebut. Saat ini memang biasa saja. Tapi lukisan ini zaman dahulu menurut saya jenius. 

image

image

Ada lagi lukisan yang menggambarkan 3 pose seorang pengemis mulai dari dia datang, mendapat uang lalu pergi yang dibuat dalam satu kanvas. Kemudian expresi ibunda nya yang marah ketika mengetahui affandi akan pergi ke india.  

Atau lukisan-lukisan dengan menggunakan sketch pena ketika sedang berada di eropa. Kemudian lukisannya yang memegang cucunya yang baru lahir dalam kondisi telanjang dengan alasan ingin merasakan apa yang juga dirasakan oleh cucunya. Hmm. Lebay memang tapi berkarakter. 

Hal lain yang membuat tertarik adalah bagaimana affandi belajar untuk bisa melukis. Jadi tidak serta merta seorang yg gambarnya acak-acakan namun dibayari harga mahal. Tapi dari beberapa skecth nya ternyata affandi belajar untuk bisa membuat kaki, jari-jari, anatomi tubuh dan lainnya. Yang meyakinkan bahwasanya affandi bukanlah pelukis asal ndeplak. 

image

Terakhir pada museum ini disajikan video affandi melukis dengan jari jemarinya yang lincah dan filosofi yang mendasari hidupnya. Jangan dikiran beliau hidup bergelimang harta, namun ternyata lukisan-lukisannya baru menuai harga selangit setelah affandi wafat yaitu dengan lukisan termurah yang ada di galerinya seharga Rp.3M.  

image

image

Gak salah saya pilih jalan-jalan ke galeri ini, menyaksikan saksi kehiduapnnya melalui galeri lukisan sang maestro kelas dunia. Bahkan setelah berkunjung kesana, dalam perjalanan langsung buka play book untuk cari siapa tahu ada buku tentang beliau. Namun ternyata belum ada. Mungkin suatu hari ada untuk bisa kita ambil makna dan pelajaran bagaimana seseorang yang hidup dengan gairahnya akan sesuatu. 

Advertisements

One thought on “Sweet Jogja : Musseum Affandi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s