Self thought: when public business become personal business (Starbucks and the Schultz)

Fakta pertama : saya suka kopi

Fakta kedua : saya suka kopi berkualitas

Fakta ketiga : Starbucks salah satu penjual kopi berkualitas

Fakta keempat : saya bukan pendukung LGBT

Fakta kelima : Starbucks melalui CEO nya mendukung LGBT
Dari fakta fakta di atas memang saat ini sedang dilema. Di satu sisi saya suka ngopi atau beli kopi di Starbucks, tapi di sisi lain saya bukan pendukung LGBT. Dua hal ini sebenarnya tidak nyambung dan tidak akan nyambung dunia akhirat jika tidak si Scultz itu dengan terang terangan mendukung LGBT dan menjadikannya seperti masalah personal. Ya personal karena dia meminta jajaran investor nya keluar jika tidak suka dengan sudut pandangnya tentang LGBT. Menyedihkan kenapa dia harus bikin semua ini jadi rumit. Tidak ada yang menggubris jika si Scultz ini membuatnya tetap para zona pribadi, karena dia bisa melakukan apa saja dengan uang pribadinya tapi dengan dengan public business. Kamu tahu Scultz? Sekarang saya harus mencari alternatif tempat kopi lain selain kedai kopi milik anda dimana saya betah berlama lama di sana. Tapi Anda senang memanfaatkan kelemahan orang lain yang sudah ketergantungan dengan kedai kopi Anda dan terus terang saya membenci cara Anda melakukan semua ini. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s