Geopark Ciletuh : 2019

Biasanya memang dua hari setelah lebaran, jika tidak punya acara kami selalu merencanakan untuk berlibur ke tempat- tempat wisata. Selain untuk memepererat silaturahmi antar anak dan istri (kelurga juga perlu silaturahmi) juga untuk melepas kepenatan di rumah bengong dan turut serta memeriahkan kegiatan mudik lebaran.

Kenapa ciletuh ? Ya kenapa ya? Hmm pertama banyak posting-posting terkait wisata ciletuh yang bermunculan di sosmed sebagai sebuah wisata destinasi baru. Sebagai destinasi baru tentu saja menjadi tumpuan harapan bagi kaum pencari wisata seperti kami. Harapannya tentu saja menemukan tempat yg masih fresh dan sedikit terjamah oleh turis-turis indonesia.

Jalan menuju ciletuh agak sedikit menantang terutama setelah menembus kemacetan dan minimnya wisata kuliner di sepanjang jalan selain sate kambing dan warung padang. (Akhirnya kami memilih makan sate kambing, dengan harga yang terbilang murah kami bisa makan sate kambing yang empuk dan enak) di wilayah sukabumi hingga bertemu pertigaan pelabuhan ratu dan geopark ciletuh. Dari sini tantangannya mulai berbeda. Apa perbedaannya? Yang paling kentara adalah medan perjalanan yang naik, turun, belok tajam, belok tajam sambil naik, belok tajam sambil turun lalu naikkkk lagi turuuuuunn lagi (banyak pengulangan huruf menandakan tingkat ke-estriman kemiringan jalan).

Mau tau pendapat gw waktu bawa mobil disitu? Menarik, menantang , pemandangan indah dan tidak membosankan. So you need to face it.

Akhirnya sampilah kami ke penginapan cdi ciletuh. Dari sekin banyak penginapan kami memilih vanada bugeul cottagge. Cottage yang eye catching dengan bentuk segitiga sama kaki yang runcing menyerupai lumbung padi di wilayah jawa barat. Kebanyakan penginapan di ciletuh berbentuk seperti itu dan itu bagus sebagai trademark. Namun saat itu vanada bugeul berhasil menjadi yang terbaik di kelasnya berdasarkan rating traveloka.

Hari pertama langsung menuju Pantai Palangpang. Jaraknya hanya 600 meter dari hotel dengan naik mobil dan 20 meter dari hotel dengan menyebrang empang depn hotel. Sayang banget hotelnya ga menyediakan fasilitas way through ke pantai karena pantai palangpang yang ada di depan hotel termasuk yang sepi.

Pantai papangpang memeiliki garis pantai yang lumayan panjang, pasir yang lembut ombak yang tidak terlalu besar. Namun sayang sekali, sekali lagi sayang sekali karena minimnya kesadaran orang-orang kita untuk membuang sampah sehingga pantai tersebut jadi kotor. Hal ini bisa jadi karena tidak adanya manajemen yg baik atau pengelolaan yang baik. Gw melihat pantai palangpang sebenarnya memiliki potensi yang bagus sekali untuk menjadi geopark dunia. Pantai dengan pasir yang lembut dan dikelilingi perbukitan yang menjulang tinggi sebagai latarnya. Hal terbaik adalah dari perbukitan itu keluar air terjun yang terlihat dengan jelas sekali dari pantai. Kalau kita pernah nonton film King Kong di pulau skul island itu mirip sekali.

untuk kuliner di geopark ciletuh agak susah juga . Yaa ada sih pilihan cuma yang bentuknya agak-agak resto gitu disini cuma ada dua kalo bukan Geopark Point atau Dapoet Ghirza. Yang satu werstern-indo dan yang satu chinese-indo . Cukup lah buat ngisi perut daripada makan pop mie terus. Makan disini selain terbatas juga harus pakai strategi yaitu datang 1 jam sebelum waktu makan atau siap-siap ga kebagian makan atau pesanannya datangnya lama.

Besok hari wisata pulau dan curug yang terjangkau dari hotel. Dengan 900ribu rupiah akhirnya kita sewa private boat dan mengunjungi pulau yang agak jauh yaitu batik. Worth it kah ? Jawabannya NO. Harusnya gw skip aja acara wisata pulau nih. Pertama boat yg mahal ditambah ternyata kita bisa ngeteng boat dengan bayar 50rb sekali jalan dari pantai palangpang ke pulau kunti. Yang kedua sepertinya kita harus definisikan ulang arti pulau karena kayanya agak berbeda antara pulau yang kita pahami dan pulau penduduk lokal pahami. Pulau batik itu jauh dan kami gak dapat gambaran yang membuat kami ‘wow’ mengapa kami harus melihat pulau batik karena itu cukup mahal jika tidak melihat apa-apa. Akhirnya mencoba merapat ke beberapa pantai yang sepertinya belum banyak terjamah namun sang guide menolak dengan alasan teknis mulai dari banyak karang dll sehingga kami diarahkan ke pantai yang paling ramai disitu yaitu pantai pasir putih.

Bentuk pantai pasir putih membuat gw lebih miris karena sampah dan potongan syrofoam yang sudah menyatu dengan pasir putihnya 😰. Tahu apa yang paling membuat miris? Ketika eyza tertawa senang ketika tidak sengaja mendapatkan sampah plastik di kaki nya saat bermain ombak yang bisa digunakan untuk sendok pasir. Ooo My God, dahulu gw girang kalau bisa dapat kerang-kerangan atau bintang laut. Tapi sekarang anak-anak kita girang ketemu sampai yang bisa dijadikan siduk pasir. Mereka berhak atas alam ini ke depannya. Ayo ini tugas kita semua. Indonesia ini benar-benar darurat perilaku buang sampah sembarangan.

Untuk wisata curug masih gak jauh beda sama wisata pantai. Sampah dimana-mana dan huft. Geopark ini benar-benar perlu berbenah karena potensinya masih ada.

Jadi apa yang terbaik dari cerita ini ? Hmmmm dari sekian banyak kegiatan yang paling menarik adalah menjelajahi geopark ini dan melihatnya dari dekat. Akses jalan yang mulus, pemandangan yang oke, dan sedikit-sedikit nyasar merupakan hal yang menyenangkan yang ada disini. Menikmati kehidupan masyarakatnya masih belum komersil dan tradisional merupakan salah satu daya tarik geopark ini.

Satu lagi yaitu keankaragaman flora dan faunanya. Disini gw ketemu sama makhluk yang mungkin terakhir gw lihat wakti jaman SD Tapi tadi ketemu lagi di pulau kunti. Itu pertanda bagus artinya alam nya belum mengalami kejenuhan dan belum ada kepunahan sehingga geopark ini masih berpotensi untuk menjadi geopark kelas dunia.

Mari kita jaga sama-sama geopark ini. Gw gak menyalahkan turis yang punya tabiat buang sampah sembarangan atau pemda nya yang cuek bebek dan seolah alpha dengan potensi yang ada di daerahnya ini. Tidak bisa menyalahkan keadaan hanya dari satu faktor. Tidak adil sepertinya. Ayo Jabar bikin Bali -mu si Ciletuh.!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s