Self thought: when public business become personal business (Starbucks and the Schultz)

0

Fakta pertama : saya suka kopi

Fakta kedua : saya suka kopi berkualitas

Fakta ketiga : Starbucks salah satu penjual kopi berkualitas

Fakta keempat : saya bukan pendukung LGBT

Fakta kelima : Starbucks melalui CEO nya mendukung LGBT
Dari fakta fakta di atas memang saat ini sedang dilema. Di satu sisi saya suka ngopi atau beli kopi di Starbucks, tapi di sisi lain saya bukan pendukung LGBT. Dua hal ini sebenarnya tidak nyambung dan tidak akan nyambung dunia akhirat jika tidak si Scultz itu dengan terang terangan mendukung LGBT dan menjadikannya seperti masalah personal. Ya personal karena dia meminta jajaran investor nya keluar jika tidak suka dengan sudut pandangnya tentang LGBT. Menyedihkan kenapa dia harus bikin semua ini jadi rumit. Tidak ada yang menggubris jika si Scultz ini membuatnya tetap para zona pribadi, karena dia bisa melakukan apa saja dengan uang pribadinya tapi dengan dengan public business. Kamu tahu Scultz? Sekarang saya harus mencari alternatif tempat kopi lain selain kedai kopi milik anda dimana saya betah berlama lama di sana. Tapi Anda senang memanfaatkan kelemahan orang lain yang sudah ketergantungan dengan kedai kopi Anda dan terus terang saya membenci cara Anda melakukan semua ini. 

Self thought: Fasting day

0

Baru saja selesai menjalani hari terakhir pada Ramadan 1438 H atau tahun 2017. Spirit masih ada kalau  dilihat. Dan tampaknya janji tentang Ramadan untuk semua pun masih cukup ampuh menggema di seantero negeri. Namun di tahun ini entah kebetulan atau tidak, banyak sekali melihat orang orang yang tidak berpuasa dan terang terangan. Apalagi kalau sudah bicara di pusat pusat perbelanjaan. Kalau masih sekelas kota Bogor mungkin masih tidak terlalu tampak. Tapi kalau sudah sekelas Jakarta, http://www.. bahkan tempat makan dibiarkan tanpa penutup. Malah seolah sedang tidak berada di negara yang mayoritas adalah Muslim. Semangat untuk saling menghormati dan menghargai sudah agak tidak kentara lagi saat ini. Bahkan dengan entengnya orang orang beli makan dan minum lalu di santap sambil berjalan. Hoho. Aneh tapi terjadi. 

Uhud mountain : a hill that will be seen again in Jannah.

0

image

Beberapa akhir ini selalu terngiang-ngiang kembali keindahan dari gunung uhud waktu kemarin diundang berumrah di mekkah. Dulu sekali saya pernag dengar tentang nama gunung ini di buku-buku pelajaran agama di smp atau sma. Tapi tidak begitu dihiraukan karena tidak yang begitu menarik dari tempat tersebut sebatas dari bagian dari sejarah islam. Namun ketika kemarin diberi kesempatan melihatnya untuk pertama kali maka rasa takjub begitu menjalar di setiap indera tubuh. Saya adalah seorang pendaki gunung dulunya, dan saya paham dan bisa menikmati keelokan sebuah gunung dimana orang lain belum tentu bisa menikmatinya. Keelokan yang hanya tercipta karena lipatan tanah yang tidak beraturan dan menjulan tinggi menuju langit . Menghabiskan memandang sebuah gunung adalah hal yang paling saya nikmati seperti hal nya seorang penikmat kuliner menikmati tiap gigitan dari makanan yang dimakannya sehingha dia mampu menceritakan detil demi detil rasa yang berada di mulutnya. Namun ternyata gunung ini sungguh lain daripada yang lain.

image

Gunung yang tidak terlalu tinggi namun menjulan dengan warnanya yang kemerahan hampir mendekati emas di hamparan gurun pasir berwarna cokelat tua yang kemudian dipadukan dengan birunya langit benar-benar menampakkan keindahan dari gunung tersebut. Benar-benar suatu anugerah bisa melihat gunung tersebut di masa kehidupan ini. Sebuah gunung yang pernah menjadi saksi sejarah islam zaman Rasulullah Saw dan saksi gugurnya para syhada pembela islam di tanah uhud. Saking istimewanya bahkan Allah menjanjikan akan mengangkatnya ke surga. Seperti saat sang muttowif umroh kami berbicara..

Pandanglah dan ingatlah gunung indah ini, karena ini adalah salah satu bagian bumi ya g kemudian akan kita lihat kembali di surga kelak”

Wallahualam.
Continue reading

Mecca

1

image

‎Sekarang mau ngulas tentang pengalaman spiritual di mekkah. Antara mekkah dan madina ternyata kota pertama lebih meninggalkan kesan yang dalam. Haha.

image

Pertama kali ke mekkah awalnya sebenarnya memang ingin menemukan pengalaman spiritual yang dicari-cari. Ternyata Allah mendengar doa tersebut. Hal pertama yang terbersit ketika sampai di kota jeddah adalah

image

“Waw, gak percaya bisa sampai disini”

Datang sebagai manusia undangan terpilih untuk mengunjungi rumah Allah Swt. Karena sudah langsung berihram ketika di pesawat maka mau tidak mau perkataan dan perbuatan harus sudah mulai dijaga. Yang ada hanyalah pikiran yang terngiang-ngiang di kepala dan hati yang selalu bertasbih. 

image

Umroh ini benar-benar coba dinikmati setiap detik dan jengkal tanahnya. Perasaan deg-degan ketika akan memasuki tanah suci mekah. Tentu ada alasan kenapa tanah ini disebut sebagai tanah suci. Tanah dimana setiap jengkal nya adalah mustajab, dimana setiap jengkalnya akan dilindungi oleh Allah dari kerusakan hingga hari kiamat. Mekkah memiliki pintu masuk yang benar-benar membuat setiap manusia terpesona. Terowongan menembus bukit cadas yang panjang seolah membawa jemaah ke dunia lain diluar imajinasi manusia. Setelah masuk rasanya diri setiap orang terberkahi sebagai undangan Allah Swt. Sang maha pencipta alam semesta. 

image

Kebetulan waktu itu adalah hari jumat, dimana waktu sudah sangat dekat menunjukkan waktu beribadah sholat jumat. Dalam jendela bis menuju hotel, di setiap jarak kota mekkah terdapat orang dengan baju ihram dari berbagai jenis wajah di dunia ini datang dengan satu tujuan yang sama. Pertama kali merasakan sholat berjamaah di kota mekkah benar-benar membuat terharu. Suara azan yang terdengar lantang di setiap sudut jalan, derap antusias manusia memenuhi panggilan azan untuk sholat jumat, dan hati nurani manusia yang bertasbih dan bertalbiah seolah-lah bergema menusuk telinga tanpa perlu mereka bersuara. Suatu budaya yang menyenangkan untuk para muslim tanpa harus menyembunyikan identitas atau sekedar gengsi untuk terlalu taat beragama.‎ 

image

Ingin rasanya jantung ini meledak ketika tidak sabar untuk melihat kabah secara langsung. Ya betul, kabah memang hanya sebuah bangunan kotak persegi dengan ditutupi oleh kain hitam bertuliskan arab. Tapi tentu saja sanubari manusia tidak berbohong kepada Sang Khalik nya. Dentuman jantung yang semakin keras ketika langkah demi langkah menuju Baitullah dan melihatnya untuk pertama kali. Subhanallah..

image

Banyak yang bilang pertama kali melihat kabah pasti akan menangis, hal itu seolah-olah menjadi sebuah mainstream bagi jemaah. Tapi pertama yang terlintas dalam benak ini pertama kali adalah keberuntungan melihat dan mengunjungi kota ini dan menyaksikan saksi sejarah keagungan kabah dari masa ke masa semenjak Nabi Ibrahim dan tertulis dalam kitab suci Alquran. Maha Benar Allah yang menurunkan Alquran yang telah menunjukkan bukti-bukti keberanannya kepada mereka yang percaya.‎ 

image

Hari pertama kedua dan ketiga terlewati dengan sungguh berkesan. Masih teringat bagaimana setiap hari dihabisi dengan sholat berjamaah di masjidil haram. Berbaris dengan berbagai umat Nabi Muhammad dari berbagai belahan dunia dan melakukan gerakan ibadah yang sama satu sama lain. Berbagi sejadah dengan orang-orang rupa rupa fisik dan budaya seolah persaudaraan telah terjalin antara setiap orang disana dan dalam benak masing-masing orang. Semua berbaris, bersujud, dan menangis pada satu titik di masjidil haram tanpa perlu ada yang mengatur dan semua terjadi dengan sendirinya seperti telah terlatih untuk melakukannya. Maha Besar Allah yang telah menanamkan kebenaran pada diri-diri manusia di bumi ini. Kebenaran yang hanya tertutupi oleh ego dan ambisi dan nafsu. 

image

Hari itu kemudian adalah waktu Fajr, pukul 05.38. Mencari barisan sholat untuk kemudian menggelar sejadah dan menanti waktu kumandang azan. Sungguh tidak sulit untuk menemukan orang Indonesia disana. Tapi disini kami masing-masing, tidak lagi dilabeli oleh negara dan simbolisme semata. Kami adalah ummat, ummat yang diucapkan sampai tiga kali dalam doa Nabi Muhammad ketika beliau akan wafat. Nabi yang telah mencintai kami ribuan tahun sebelumnya bahkan sebelum kami lahir dan memohonkan ampun atas dosa kami bahkan sebelum kami melakukannya. Nabi yang penuh kasih sayang dan seketika dapat menjadi seorang yang begitu pemberani diantara yang lainnya. Beliau adalah Raja bagi kami, ayahanda bagi kami, dan pemberi syafaat kami bahkan ketika nanti kami diadili di akhirat. Tiba-tiba kerinduan ini muncul seketika, ingin bertemu langsung dengan beliau dan hidup bersamanya di akhirat sana kelak. Tapi apakah kita seberuntung itu? 

image

Fajar kali ini entah terasa lain dari fajar-fajar sebelumnya. Masjidil haram yang begitu terang benderang, bahkan di kala langit masih gelap gulita. Ya, bahkan guratan-guratan dindingnya di kala itu masih terlihat jelas dalam ingatan. Tiba-tiba suara sang imam pun bergema dan seketika itu juga para jemaah melakukan gerakan sholat dan bertakbir bersama. Tidak tahu kenapa, tapi saat itu bacaan imam terdengar sangat menggetarkan hati dan tanpa sadar meneteslah air mata ini. Mengingat kembali dosa-dosa yang dilakukan dan bagaimana saat itu terpikir betapa beruntungnya jika dapat mati di tempat ini. Ya Allah, sungguh indah bacaan imam ini. Berkahilah dia Ya Allah. Begitulah kira-kira doa yang terlintas dalam benak sambil menikmati bacaan Alquran yang teramat merdu yang pernah di dengar sepanjang hidup ini. Imam tersebut bernama Syekh Bandar Baleela, seorang manusia beruntung yang terpilih menjadi imam di Masjidil Haram. Masjid dengan keutamaan tertinggi dimana sholatnya akan dinilai 100.000 kali lipat daripada tempat lain. Indahnya kontrak imam tersebut sampai ketika mati pun dia akan termasuk orang-orang beruntung yang akan di sholati oleh seluruh penduduk mekkah dan jenazahnya akan di kubur dengan tanah-tanah suci di kota mekkah. Kuburan para imam masjidil haram semenjak zaman ke khalifahan, yaitu kuburan tanpa makam, nisan dan hanya sebuah patok. 

image

image

image

image

Hari-demi hari semakin terasa indah di kota mekkah. Seolah sudah menjadi salah satu warga mekkah. Hal yang mungkin kuinginkan di dunia ini saat itu. Menjadi penduduk kota ini dan di sholati oleh seluruh penduduk mekkah untuk kemudian ditimbun dalam tanah suci kota mekkah. Waktu tiga hari diisi dengan sholat dan umroh berturut-turut. Mengumrohkan diri sendiri untuk kemudian di hari berikutnya mengumrohkan ayahanda tercinta yang bahkan belum sempat menunaikan umroh nya dan waktu terlanjur memanggilnya pulang ke Rahmatullah. Pada hari mengumrohkan ayahanda tercinta, di depan kabah sebagai saksi , hati ini menangis dan air mata berlinang memohon kepada Allah Swt menyampaikan pahala umroh ini untuk ayahanda tercinta di alam sana sebagai bakti anaknya kepada orang tua. Pahala yang ikhlas diberikan untuk sang ayah yang mungkin tidak dapat melakukan umrohnya karena harus berkeringat membiayai anak-anaknya bersekolah. Ya Allah jika memang begitu kenyataannya, jadikanlah setiap tetesan keringat beliau sebagai ibadah dihadapanMu. Dan tak lupa sampaikan pahala ini dan salam hamba kepada beliau karena perpisahan ini hanya sementara sampai kami kembali dikumpulkan lagi di alam barzah kelak. Punggung yang sakit, kaki yang lecet, dan peluh yang terus keluar seolah tidak menghentikan langkah ini untuk terus bertalbiah kepadaNya. Sungguh keikhlasan yang ada ketika memang harus mati meninggalkan jasad ini disana. Dunia ini terkadang sungguh membuat lelah, lelah untuk menahan godaan-godaan kesenangan duniawi yang ternyata hanyalah jebakan nafsu belaka. 

image

Oiya,, apa kalian tahu dimana bagian terbaiknya? Yaitu suatu malam setelah menunaikan umroh dan sholat isya di masjidil haram bersama istri tercinta. Istri tercantik dengan kerudung hitamnya yang anggun. Saling berpegang tangan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Berjalan menyusuri jalanan kota mekkah bersama ribuan orang lain yang berlalu lalang menunaikan ibadah dilatar belakangi masjidil haram dan sinar bulan di kota mekkah. Alhamdulillah. Undang lagi kami kesana…